Polling

Menurut anda Tampilan Web site ini Bagaimana ?


Hasil

Statistik Pengunjung


Pengunjung Hari ini : 92
Pengunjung Bulan ini : 322
Total Pengunjung : 2609

SEJARAH SINGKAT


A.1.  Sejarah Asal Usul Nama Batu Basong

Suntalangu sebelum menjadi desa, merupakan satu kekadusan dari Desa Ketangga Kecamatan Pringgabaya, yaitu Dusun Batu Basong. Nama ini memang cukup unik dan seringkali mengundang pertanyaan, kenapa dinamakan Batu Basong yang sampai saat ini dipergunakan sebagai nama dua dusun dalam wilayah Desa Suntalangu?

Beberapa keterangan yang dapat dihimpun dari penuturan para tokoh masyarakat dan tokoh adat, didapat legendanya sebagai berikut:

Konon pada masa lalu, Pulau Lombok adalah sebuah kerajaan besar yang bernama Kerajaan Selaparang. Kerajaan ini memiliki beberapa kerajaan bawahan, sehingga wilayahnya melipui seluruh kawasan Pulau Lombok. Perjalanan kerajaan ini diwarnai oleh pengaruh dari berbagai daerah dan negeri, termasuk pengaruh dari para pedagang yang datang dari Makassar dan bahkan Timur Tengah. Karena selain berdagang, para pedagang tersebut juga melakukan dakwah untuk menyiarkan agama Islam, sehingga sebagian besar rakyat Kerajaan Selapaang waktu itu sudah memeluk agama Islam, walaupun ada diantaranya yang masih terpengaruh kepercayaan animisme.

Kerajaan Selaparang pernah diinvasi oleh kerajaan tetangga dari pulau Dewata Bali, yaitu Kerajaan Karangasem. Dalam suasana yang tidak menentu, pengaruh raja Bali ini semakin luas, dilain pihak kekuasaan raja Selaparang terasa semakin terdesak, bersamaan dengan itu penyebaran agama Hindu Dharma juga mempengaruhi kepercayaan rakyat Kerajaan Selaparang.

Raja berfikir, banyak kemungkinan yang bisa terjadi tanpa diduga. Oleh karena itu, untuk menjaga serangan yang tiba-tiba datang dari pasukan Raja Bali ke pusat pemerintahan raja Selaparang, maka raja mengajak keluarganya untuk mengungsi meninggalkan kotaraja Selaparang. Karena menganggap pengungsian itu akan memakan waktu yang cukup lama, selain keluarga, raja mengajak serta patih dan pengawal istana, serta membawa pula binatang piaraan dan binatang kesayangan raja seperti sapi, kerbau, kucing, anjing dan sebagainya.

Raja menduga bahwa serangan jika terjadi, akan datang dari arah timur, maka raja mengambil inisiatif untuk mengungsi ke arah barat daya. Beberapa hari kemudian, sampailah raja beserta rombongannya di suatu tempat di tengah hutan yang berbatasan dengan kali/sungai Kokok Desa yang membentang dari utara ke selatan. Pada saat yang bersamaan sedang terjadi hujan lebat yang mengakibatkan banjir besar di sungai tersebut. Akibatnya, raja dan rombongan menghentikan langkah perjalanannya sementara waktu. Namun karena raja atau sultan Selaparang memiliki kesaktian, maka beliau dengan mudah menyeberangkan keluarga dan binatang piarannya melintasi sungai. Satu-satunya yang tidak dapat diseberangkan (karena najis) adalah seekor anjing (bahasa Sasak : “Basong”), sehingga ditinggalkan sendirian di tengah hutan.

Anjing yang setia itu duduk menanti jemputan dari tuannya, namun rupanya, karena kesibukan raja mengatur strategi, anjing ini terlupakan. Namun dengan setia anjing ini menunggu dan menunggu tuannya, akhirnya setelah bertahun-tahun duduk menunggu, lama kelamaan akhirnya berubah menjadi batu. Dari peristiwa itu masyarakat kemudian menandai atau memberikan nama lingkungan hutan dan sekitarnya itu dengan julukan “Batu Basong.” Ini bermula ketika masyarakat setempat menemukan sebuah batu yang bentuknya sangat mirip dengan seekor anjing. Konon pada waktu-waktu tertentu batu tersebut terdengar bersuara seperti anjing menggonggong, sehingga nama Batu Basong dianggap memiliki sejarah dan cocok untuk dipakai sampai saat ini. Karena pengaruhnya yang sudah sangat mengakar pada masyarakat nama Batu Basong tidak mudah diubah dan dilupakan, lebih-lebih masyarakat luar desa lebih mengenal nama Batu Basong untuk menyebut kawasan yang berada tepat di tengah-tengah wilayah Kecamatan Suela.

Foto Lama (3)

Bukan tidak mau merubah namanya, bahkan sudah dicoba beberapa kali untuk menghilangkan nama Batu Basong. Pada masa Pemerintahan Aq. Mustiarah (sekitar tahun 1975) misalnya, nama Batu Basong pernah akan diubah dengan mempromosikan nama Batu Ngongkong (Bahasa Sasak yang artinya Batu Menggonggong). Ini didasarkan pada legenda yang menyebutkan batu tersebut pernah terdengar seperti suara anjing menggonggong. Akan tetapi nama yang dipromosikan tidak mampu menggeser imej masyarakat terhadap nama yang sudah mereka kenal, yakni Batu Basong. Kemudian pada tahun 1979 dimasa Desa Suntalangu dipimpin oleh Plt Kepala Desa Lalu Jalaludin, nama Batu Basong kembali akan diubah. Kali ini nama yang dipromosikan adalah “Batu Kepeng”. Tulisan besar-besar dipampang di pintu masuk desa, yaitu di jembatan Suntalangu dengan tulisan “Selamat Datang di Batu Kepeng”. Namun lagi-lagi promosi itu tidak dapat merubah nama Batu Basong.

 

A.2.  Asal-Usul Nama Suntalangu

Lama setelah peristiwa berubahnya anjing menjadi batu, ketika suatu hari raja melewati jalan yang pernah dilalui ketika mengungsi, beliau terpaku melihat sebuah batu batu yang berbentuk sangat mirip dengan anjing. Ketika diperhatikan lebih saksama, batu itu memang benar-benar mirip. Beliau heran dan termangu, lalu beliau ingat bahwa itu tak lain adalah seekor anjingnya yang terlupakan. Anjing yang ditinggalkan beberapa waktu yang lalu ketika harus menyeberang sungai yang sedang terjadi banjir besar.

Para pengikut raja atau sultan yang ikut dalam perjalanan ketika itu spontan memberikan nama kedua untuk kawasan tersebut dengan julukan “Sultan Mangu” yang berarti Raja termangu/termenung/heran/bingung. Kata Sultan Mangu lama kelamaan karena adaptasi lidah masyarakat berubah menjadi Suntalangu. Untuk dapat membedakan antara Suntalangu dan Batu Basong, maka secara tidak tertulis disepakati Batu Basong untuk menyebut wilayah di sebelah timur sungai, dan Suntalangu untuk wilayah yang berada di sebelah barat sungai.

 

A.3.  Hari Jadi Desa Suntalangu

Pada tanggal 12 April 1967, Desa Ketangga dimekarkan menjadi tiga desa, yaitu Ketangga Induk, Desa Selaparang dan Desa Suntalangu. Bersamaan dengan itu, untuk memperlancar pemerintahan di desa Suntalangu Kekeliangan (dusun) Batu Basong dipecah menjadi tiga dusun, yaitu 1) Dusun Batu Basong, Dusun Dasan Baru dan Dusun Aik Embuk. Ketika pemekaran Desa Ketangga menjadi desa Suntalangu, kedua istilah Batu Basong dan Suntalangu semakin dipertegas batas-batasnya. Akhirnya musyawarah para pemuka masyarakat memutuskan Suntalangu dijadikan sebagai nama desa secara resmi dengan pusat pemerintahan di Batu Basong. Sehingga tanggal 12 April dinyatakan sebagai Hari Jadi Desa Suntalangu yang resmi.

Kantor Desa (2)

Pemilihan Kepala Desa Suntalangu pertama dilaksanakan pada bulan September 1967, dan terpilihlah Kepala Desa Pertama, yaitu Abdul Mukhtar alias Amaq Mustiarah untuk masa jabatan 8 (delapan) tahun, yaitu Oktober 1967-Oktober 1975.

Pada tahun 1975 dilakukan pemekaran dusun kembali, dimana Dusun Batu Basog dimekarkan menjadi 3 (tiga) dusun yaitu Suntalangu dengan wilayah sebelah barat sungai, Dusun Batu Basong I sebelah timur sungai bagian selatan jalan raya dan Dusun Batu Basong II dengan wilayah sebelah timur sungai dan utara jalan raya. Dengan demikian pada awal masa jabatan Kepala Desa Suntalangu Kedua (Harun), Desa Suntalangu terdiri dari 5 (lima) dusun, yaitu Suntalangu, Batu Basong I, Batu Basong II, Dasan Baru dan Aik Embuk.

 

A.4.  Pemekaran Desa Suntalangu

Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya Bupati Lombok Timur menyetujui pemekaran desa Suntalangu pada tanggal 1 Desember 2009. Keputusan Bupati tentang terbentuknya Desa Persiapan Mekar Sari dengan wilayah yang meliputi Dusun Aik Embuk dan sebagian wilayah Dusun Dasan Baru (Napak Sari) Desa Suntalangu yang bergabung dengan dua dusun dari wilayah desa Prigi Kecamatan Suela.  Dengan demikian, Desa Suntalangu setelah pemekaran terdiri dari 4 dusun dan 27 RT dengan rincian sebagai berikut:

  1. Dusun Suntalangu terdiri dari 2 RT
  2. Dusun Batu Basong I terdiri dari 8 RT
  3. Dusun Batu Basong II terdiri dari 7 RT
  4. Dusun Dasan Baru terdiri dari 10 RT

 

A.5.  Pemekaran Dusun Dasan Baru

Memperhatikan peluang untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat di tingkat dusun, maka masyarakat Dusun Dasan Baru berinisiatif untuk memekarkan dusun. Keinginan tersebut mereka sampaikan dalam bentuk aspirasi bersama melalui musyawarah tingkat dusun yang diadakan pada hari Kamis tanggal 22 September 2011 bertempat di aula Madrasah Putra Rinjani NW Dasan Baru Desa Suntalangu.

Tujuan pemekaran dusun adalah untuk mempersingkat rentang kendali dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat, terciptanya pelayanan masyarakat yang lebih cepat dan optimal sehingga masyarakat lebih terayomi segala kebutuhannya.

Sesuai dengan Keputusan Bupati Lombok Timur Nomor: 188.45/866/ PMPD/2011 dinyatakan bahwa usulan pemekaran dusun diterima. Surat Keputusan Bupati Lombok Timur tentang Persetujuan Pembentukan 24 (dua puluh empat) Dusun di Kabupaten Lombok Timur. Profil ketiga dusun pemekaran tersebut masing-masing sebagai berikut:

1. Dusun Dasan Baru

Nama Dusun : DASAN BARU

Luas Wilayah :  73,950 Ha.

Jumlah Penduduk :  477 Jiwa

Jumlah KK :     550 KK

Sarana yang dimiliki :

  • Jalan Kabupaten : 1 Km
  • Jalan Desa : 0,5 Km
  • Jalan diperkeras : 1,5 Km
  • Jalan tanah : 1 Km
  • Lorong/gang : 1 Km
  • TK/PAUD : 1 buah
  • SD/MI : 2 buah
  • SMP/MTs : 1 buah
  • SMA/MA/SMK : 1 buah
  • Masjid : 1 buah
  • Mushalla : 7 buah
  • TPA/TPQ : 9 buah
  • Majlis Ta’lim : 2 Klp
  • Kelompok Tani : 2 Klp
  • Poskesdes : 1 buah
  • Posyandu : 1 buah
  • Gedung posyandu : – buah

 

2.  Dusun Dasan Modok

Nama Dusun : DASAN MODOK

Luas Wilayah :  84,290 Ha.

Jumlah Penduduk :   423 Jiwa

Jumlah KK :   174 KK

Sarana yang dimiliki :

  • Jalan Desa : 1,5 Km
  • Jalan diperkeras : 1 Km
  • Lorong/gang : 700 m
  • TK/PAUD : 1 buah
  • Masjid : 1 buah
  • Mushalla : 2 buah
  • TPA/TPQ : 3 buah
  • Majlis Ta’lim : 1 Klp
  • Kelompok Tani : 2 Klp
  • Posyandu : 1 buah
  • Gedung posyandu : 1 buah

 

3.  Dusun Lelonggek

Nama Dusun : LELONGGEK

Luas Wilayah :  89,610 Ha.

Jumlah Penduduk :   439 Jiwa

Jumlah KK :   154 KK

Sarana yang dimiliki :

  • Jalan Desa : 1 Km
  • Jalan diperkeras : 1,5 Km
  • Jalan tanah : 1 Km
  • Lorong/gang : 1 Km
  • SD/MI : 1 buah
  • Masjid : 1 buah
  • Mushalla : 2 buah
  • TPA/TPQ : 3 buah
  • Majlis Ta’lim : 2 Klp
  • Kelompok Tani : 2 Klp
  • Posyandu : 1 buah
  • Gedung posyandu : 1 buah

 

Isi Keputusan Bupati Lombok Timur tersebut adalah Menyetujui Pembentukan 24 (dua puluh empat) dusun baru di Kabupaten Lombok Timur yang merupakan dasar penetapan Peraturan Desa tentang Pembentukan Dusun. Kedua puluh empat dusun tersebut adalah:

  1. Dusun PURWAKARYA Desa LABUAN PANDAN Kecamatan Sambelia
  2. Dusun ARO INAK Desa SEKAROH Kecamatan Jerowaru
  3. Dusun TRANS Desa SEKAROH Kecamatan Jerowaru
  4. Dusun UJUNG GOL Desa SEKAROH Kecamatan Jerowaru
  5. Dusun TELONE Desa SEKAROH Kecamatan Jerowaru
  6. Dusun AIK LISUNG Desa KARANG BARU Kecamatan Wanasaba
  7. Dusun BATU RENTE Desa KARANG BARU Kecamatan Wanasaba
  8. Dusun BERIRIJARAK TIMUR Desa BERIRIJARAK Kecamatan Wanasaba
  9. Dusun BERIRIJARAK UTARA Desa BERIRIJARAK Kecamatan Wanasaba
  10. Dusun DASAN BEMBEK Desa MAMBEN DAYA Kecamatan Wanasaba
  11. Dusun BAGEK LONGGEK TIMUR Desa MAMBEN DAYA Kecamatan Wanasaba
  12. Dusun LELONGGEK Desa SUNTALANGU Kecamatan Suela
  13. Dusun DASAN MODOK Desa SUNTALANGU Kecamatan Suela
  14. Dusun DASAN KOAK Desa MEKAR SARI Kecamatan Suela
  15. Dusun KUANG PAOK Desa MEKAR SARI Kecamatan Suela
  16. Dusun NAPAK SARI Desa MEKAR SARI Kecamatan Suela
  17. Dusun BELUMBANG SELATAN Desa MEKAR SARI Kecamatan Suela
  18. Dusun TUMPANG SARI Desa MEKAR SARI Kecamatan Suela
  19. Dusun TEMPASAN Desa PRINGGASELA Kecamatan Pringgasela
  20. Dusun DASAN SADAR Desa PRINGGASELA Kecamatan Pringgasela
  21. Dusun GUBUK BARET SELATAN Desa PRINGGASELA Kecamatan Pringgasela
  22. Dusun DAYAN JERO Desa KALIJAGA Kecamatan Aikmel
  23. Dusun BATU BESERUNG Desa GUNUNG MALANG Kecamatan Pringgabaya
  24. Dusun PERMATAN Desa GUNUNG MALANG Kecamatan Pringgabaya

 

A.6.  Kepala Desa Suntalangu Saat Ini

Seperti dijelaskan terdahulu bahwa pemilihan Kepala Desa I di desa Suntalangu diselenggarakan pada tahun 1967 dan Abdul Mukhtar memperoleh suara terbanyak. Sehingga, sejak berdiri, Desa Suntalangu sudah dipimpin oleh 9 (sembilan) tahapan/periode kepala desa, masing-masing adalah:

  1. Aq. Mustiarah Tahun 1967 – 1975  (8 tahun)
  2. H a r u n Tahun 1975 – 1978  (3 tahun)
  3. Lalu Jalaluddin Tahun 1978 – 1982  (4 tahun/Pjs)
  4. Aq. Mustiarah Tahun 1982 – 1992  (9 tahun)
  5. Akmaluddin, SH Tahun 1992 – 2000  (8 tahun)
  6. Mulki, S.STp. Tahun 2000 – 2001  (1 tahun/Pjs)
  7. Siumardani, S.Pi Tahun 2001 – 2006  (5 tahun)
  8. Siumardani, S.Pi Tahun 2006 – 2012  (6 tahun)
  9. Habibuddin, S.Kom Tahun 2012 – sekarang

Demikian sekilas sejarah berdirinya Desa Suntalangu sejak dimekarkan dari Desa Ketangga sampai keadaannya sekarang ini.

(Sumber: RPJMDes Suntalangu 2014-2018)